Pages

Minggu, 23 November 2014

Beda Fotografer Pro dan Amatir

Secara umum, seorang amatir diartikan sebagai orang yang mencintai fotografi dan tidak menghasilkan uang dari kegiatan tersebut. Sedangkan seorang fotografer pro adalah seorang fotografer yang menghasilkan uang dari fotografi. Definisi diatas agak janggal karena hanya melihat dari sisi luarnya saja. Sesuai definisi diatas, banyak fotografer pro memiliki hasil karya yang dibawah standar. Di lain pihak, banyak yang masuk definisi fotografer amatir tapi memiliki karya yang jauh lebih bagus dan konsisten. Bukannya agak aneh memberikan gelar “pro” kepada tukang foto keliling dan “amatir” kepada fotografer yang menghasilkan karya yang spektakuler tapi tidak menjual jasa/karyanya?
Maka itu, menurut saya perlu ada redefinisi istilah amatir dan fotografer pro supaya lebih sesuai. Definisi pro dan amatir seharusnya tidak berdasarkan masalah uang semata. Menurut yang saya amati, fotografer pro dan amatir memiliki perbedaan yang kontras dalam cara pikir dan kebiasaan mereka. Ciri-ciri dibawah ini tidak hanya berlaku dibidang fotografi saja tapi juga dibidang pekerjaan lainnya.

Pro bekerja dengan konsentrasi tinggi dan cenderung menjelajahi sesuatu secara mendalam, sedangkan amatir mudah teralihkan perhatiannya dan biasanya mempelajari sesuatu hanya sebatas di permukaan saja. Misalnya, profesional giat belajar dan konsisten dalam berlatih. Sedangkan amatir berlatih kalau hanya suasana hatinya lagi bagus saja. Saat pro berlatih di studio, amatir sibuk dengan bb, twitter dan facebooknya. Sewaktu praktik juga sering tidak serius. Jika pergi ke suatu tempat, Pro akan menjelajah lebih lama tentang tempat itu, mencari tahu apa keunikan dan karakter suatu tempat. Kalau perlu nungguin dari pagi sampai malam untuk mendapatkan cahaya yang paling sesuai dengan imajinasinya. Jika bertemu seseorang, fotografer pro akan mencoba mengenal dan menggali lebih dalam tentang orang tersebut. Sedangkan amatir akan sekedar jeprat-jepret lalu kembali naik ke mobil. Profesional tahu apa yg harus dikerjakan dan jalan mana yang harus ditempuh. Jalan tersebut kecil dan terjal, tapi jelas dan tidak bercabang. Sedangkan amatir senantiasa terpengaruh dengan jalan yang bercabang-cabang dengan tujuan yang tidak jelas.

Amatir sangat membutuhkan pengakuan dari kelompok/gangnya. Maka itu banyak amatir yang menempelkan watermark yang berisi kata-kata yang dianggap keren seperti “Blablabla Photoworks” dan kemudian sibuk mentag orang-orang yang berada di jejaring sosial dengan agresif. Kalau dapat banyak “like” atau komentar yang bagus rasanya tubuh jadi ringan, rasanya seperti melayang. Masalahnya, “like” di Facebook kebanyakan itu sebagai bentuk dukungan teman saja tapi belum berarti karyanya bagus. Ironisnya, amatir juga takut hasil fotonya terlalu bagus. Jika fotonya terlalu menonjol dari yang lainnya, kemungkinan besar akan dikritik dan dikucilkan oleh “geng”-nya.
Mungkin salah satu hal yg paling membedakan antara pro dan amatir adalah amatir suka mencari jalan pintas sedangkan pro siap menjalani jalan yang sulit dan panjang untuk mencapai impiannya. Salah satu contohnya, amatir biasanya mencoba mengatasi masalah mereka dengan membeli kamera dan lensa baru. Harapannya mainan baru tersebut dapat mengatasi kekurangan teknik dan seni mereka dengan cepat. Saat mengajak mengikuti kursus fotografi, kadang-kadang saya mendapatkan komentar “kok mahal?”, jawaban semacam ini yg selalu mengagetkan saya karena saya tahu peralatan fotografi mereka rata-rata tidak kurang dari sepuluh juta, belum lagi aksesorisnya. Di lain pihak, pro menyadari peralatan yang sesuai saja tidak cukup, seni dan teknik lebih penting untuk terus dipelajari dan diasah. Amatir yang ingin menjadi pro terus menerus belajar dan praktik yang konsisten.

Tidak mudah menjadi pro, karena pasti akan banyak kritik dan rintangan. Seringkali rintangan itu dari diri sendiri. Mungkin kita sudah merasa puas diri dan nyaman dengan kehidupan sebagai amatir, dan itu wajar saja. Tidak jarang juga amatir menyalahkan orang lain atau suasana misalnya keluarga, teman, bos yang tidak mendukung hobi kita. Amatir biasanya mundur dari hobinya kalau bertemu rintangan-rintangan, kalau pro lanjut terus, malah menularin orang-orang yang tadinya tidak mendukung he he he.. Berita baiknya, menjadi pro itu gratis. Kita hanya perlu mengubah pandangan kita dan kebiasaan kita. Keputusan menjadi pro itu imbalannya besar. Kita bisa menggapai impian dan melakukan apa yang benar-benar kita cintai.

Pro:
  • Berkonsentrasi tinggi, rutin praktik
  • Mementingkan kedalaman suatu foto/cerita.
  • Konsisten menghasilkan karya yang baik
  • Siap dan bersedia untuk menempuh jalan yang sulit dengan tujuan mendapatkan hasil foto yang bagus
  • Mendapatkan banyak rintangan tapi tidak cepat mundur dan putus asa
Amatir:
  • Sering teralihkan perhatiannya (distracted), hasil foto tidak konsisten dan biasanya tergantung mood
  • Membutuhkan pengakuan dari kelompok, teman atas hasil karyanya
  • Takut fotonya kurang bagus/kurang diterima, takut terlalu bagus sehingga dikritik atau dikucilkan
  • Berusaha mencari jalan pintas supaya fotonya bagus, salah satunya dengan membeli alat fotografi yang mahal
  • Saat menemukan rintangan, amatir cepat menyerah dan berhenti

8 Kunci dalam Menekuni Fotografi

Dari 2007 sampai 2011, saya merasakan banyak perkembangan dalam dunia fotografi saya. Dari banyak belajar, praktik, inilah 8 hal utama yang saya anggap penting untuk meningkatkan diri kita dan pada akhirnya, karya kita. Saya berharap saya mengetahui hal-hal ini di tahun-tahun awal saya belajar fotografi. Hal-hal tersebut adalah:

1. Belajar teori fotografi terlebih dahulu akan menghemat banyak waktu
Belajar fotografi sebaiknya diawali oleh mempelajari teori fotografi sebelum praktik. Meskipun seringkali kurang menyenangkan dan membosankan bagi sebagian orang, tapi belajar teori akan mempercepat proses belajar dan meningkatkan kualitas foto kita. Keuntungan utama dari menguasai teori adalah kita bisa “membuat” foto yang kita mau dan bisa membuat hasil yang serupa kapan saja kita inginkan. Belajar teori bisa didapat dengan berbagai cara, antara lain dengan membaca buku, menonton video, dan mengikuti 

2. Alat itu bagus, tapi visi yang baik lebih bagus
Dulu saya menganggap bahwa alat yang mahal akan membuat hasil foto kita menjadi bagus. Memang benar alat fotografi seperti kamera dan lensa berkontribusi atas ketajaman gambar, keindahan warna dan detail. Tapi mengunakan alat fotografi yang terbaik saja tidak cukup untuk menghasilkan foto yang bagus. Komposisi gambar, kemampuan melihat dan memanipulasi cahaya, dan ilmu-ilmu lainnya masih sangat penting untuk di pelajari. Meski alat fotografi kita sederhana, tapi kita bisa menciptakan karya yang baik bila kita fokus dalam meningkatkan visi kreatif kita.

3. Ilmu fotografi bisa dipelajari dan dikuasai siapa saja
Fotografer yang berhasil membuat karya-karya besar dari kerja keras dan hasil belajar bertahun-tahun, bukan hanya sekedar bakat. Menurut Thomas Alva Edision, sukses berasal dari 1% inspirasi dan 99% dari kerja keras. Jadi jangan kuatir bila kita merasa tidak berbakat atau lamban dalam belajar fototografi. Bila memiliki kemauan belajar dan kerja keras kita bisa mencapai bahkan melampaui fotografer yang lebih sukses dari kita.

4. Kembangkan gaya fotografimu
Setiap orang memiliki kesukaan sendiri atas jenis fotografi. Ada yang mungkin suka fotojurnalisme / candid, ada yang suka fotografi hitam putih dan sebagainya. Bila apa yang kita sukai tidak sesuai tren yang ada, kadang kita menerima tekanan karena foto kita tidak begitu dihargai oleh masyarakat luas. Daripada mengubah gaya fotografi kita dan mengikuti tren yang ada, lebih baik bila mengembangkan kualitas dan gaya foto kita. Selain lebih menyenangkan, kita juga akan lebih cepat berkembang karena fokus ke hal yang kita sukai. 

5. Fotografi sebagai hobi dan karir itu berbeda
Hobi dan kerja adalah hal yang sangat berlainan. Bila kita menganggap fotografi sebagai hobi, maka kita tidak memiliki tuntutan untuk mendapatkan uang dari fotografi. Sebagai penghobi, kita juga tidak perlu mengurusi klien. Karena murni untuk kepuasan sendiri. karena tidak ada tuntutan ROI (return on investment), maka investasi sebesar apapun tidak menjadi masalah. Di lain pihak sebagai profesional, kita harus mempertimbangkan banyak hal. Dan sebagai pro, seringkali kerjaan utama kita bukan fotografi lagi, tapi lebih ke manajemen dan marketing. Oleh sebab itu, pertimbangkan matang-matang bila kita ingin mengubah hobi kita menjadi karir.

6. Lighting itu rumit, tapi penting untuk dipelajari
Pencahayaan itu penting untuk dipelajari, baik yang alami maupun buatan. Ketika saya masih pemula, saya menyepelekan lighting dan hanya mengandalkan kamera canggih dan lensa mahal. Tapi ternyata kedua hal tersebut tidak bisa menyelesaikan masalah saya. Foto foto saya semuanya biasa-biasa saja dan tidak setajam yang saya inginkan. Setelah belajar lighting, saya bisa mendapatkan foto yang lebih tajam dan bisa mengendalikan saturasi warna dan sifat cahaya dengan lebih baik. 

7. Foto subjek yang bagus
Meski fotografer yang ahli mampu membuat foto yang unik di lingkungan yang jelek atau lingkungan turis yang sudah sering di foto, hasil foto yang terbaik terjadi saat kita berada di depan lingkungan yang unik dan fotogenik. Demikian juga bila kita foto model/fashion. Model yang cantik dan pintar bergaya akan memudahkan kerja kita dan membuat hasil foto menjadi jauh lebih baik daripada orang biasa. Hal ini juga berlaku dalam foto still life, makanan dan sebagainya. Pemilihan makanan atau subjek foto yang bagus sangat penting dan sangat mempengaruhi hasil foto.

8. Berbagi
Setelah menguasai ilmu fotografi, ada baiknya kita berbagi melalui karya foto kita, mengajar, menulis, berbicara di seminar dan lain-lain. Sebagian besar orang enggan berbagi karena tidak melihat manfaatnya secara langsung, padahal dengan berbagi, kita akan menerima pahala yang besar.
Saya sendiri merasakan selama mengajar dan menulis blog, saya sering mendapatkan inspirasi dan ide-ide kreatif, selain itu saya terpacu untuk meningkatkan kualitas foto saya. Dari proses ini, saya juga mendapatkan banyak teman-teman baru yang sering membantu saya ketika saya menghadapi kesulitan

Mengendalikan Eksposer

Kadang saya mendapatkan pertanyaan dari murid saya, bagaimana cara memulai untuk setting bukaan, shutter speed dan ISO? nah tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang memiliki gaya dan kebiasaan yang berbeda-beda apalagi di jaman sekarang, dimana setiap kamera sudah punya banyak mode-mode otomatis dan semi otomatis yang canggih.
Nah, bagaimanakah gaya jaman orang dulu? sebelum kamera digital yang serba otomatis ini dibuat?
Pertama-tama adalah dengan menentukan ISO. Di jaman dulu, ISO disebut juga dengan ASA, yaitu tingkat kepekaan film. Nah, kita pertama-tama memilih film dengan ASA sesuai dengan kondisi cahaya tempat kita memotret. Di keadaan yang terang, kita memakai film dengan ASA 100 atau 200. Di kondisi yang agak gelap, kita memakai ISO 400 atau 800. Di tempat yang gelap sekali, kita memakai ISO 1600.
Hal ini bisa diaplikasikan juga di era fotografi digital. Kamera mode yang kita pakai adalah manual, supaya bisa mengendalikan nilai-nilai bukaan, shutter speed dan ISO.
Pertama-tama kita menetapkan ISO berdasarkan kondisi cahaya yang ada. Kemudian, tinggal mengatur bukaan yang dikehendaki sesuai dengan seberapa blur latar belakang yang diinginkan. Terakhir, kita tinggal mengatur shutter speed sesuai dengan kondisi cahaya yang ada.
Cara lain yang saya pakai dengan kamera Nikon adalah memanfaatkan fungsi auto ISO.
Kamera Nikon yang saya pakai D90 dan D700, dan sepertinya hampir semua kamera DSLR Nikon memiliki fungsi auto-ISO yang canggih. Ini bisa sangat membantu bila dimanfaatkan dengan baik.
auto-iso-nikonPertama-tama kita mengatur batas maksimum ISO yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai ISOnya, fotonya akan semakin buruk, tapi ISO tinggi penting juga untuk mencegah foto terlalu gelap atau shutter speed menjadi terlalu rendah sehingga gambar blur. Biasanya saya set ISO minimum ke 200 dan maksimum ke ISO 1600. Hal ini karena ISO 3200 kualitas fotonya sudah terlalu buruk menurut saya untuk kamera Nikon D90. Untuk kamera full frame seperti Nikon D700, saya berani memakai sampai ISO 4000.
Kemudian saya mengatur minimum shutter speed minimum. Nah nilai ini tergantung dari lensa yang dipakai. Kalau lensanya panjang atau saya foto benda yang bergerak, saya set minimumnya agak cepat misalnya 1/250 detik supaya foto tidak blur.
Setelah itu, saya tinggal memakai mode kamera A/Av alias aperture priority untuk mengatur bukaan, kamera akan secara otomatis mencari nilai shutter speed dan ISO yang dikehendaki.
Keuntungan memakai cara ini dibanding cara tradisional adalah kita tidak usah repot mengubah setting shutter speed dan ISO dan juga tidak takut foto menjadi blur. Lalu keuntungan lainnya  adalah kita mendapatkan foto dengan nilai ISO yang lebih optimal daripada tetap di satu nilai saja.

Teknik Fokus Hypervocal Distance

Memfokuskan lensa ke jarak hiperfokal (hyperfocal) memastikan bahwa 1/2 jarak dari jarak hiperfokal sampai tak terhingga dalam fokus/tajam. Ada tiga faktor yang mempengaruhi jarak hiperfokal yaitu bukaan lensa, rentang fokal lensa (focal length) dan ukuran sensor kamera.
Teknik mengunakan hyperfocal distance sering digunakan oleh fotografer landscape, street photography supaya objek foto dan latar belakangnya tajam. Teknik ini berperan sangat penting saat memotret dengan lensa/kamera yang tidak mendukung fungsi autofokus. Contohnya kamera rangefinder seperti Leica, atau saat mengunakan lensa yang tidak memiliki fungsi autofokus seperti lensa-lensa Samyang, Carl Zeiss dan lain lain. Syaratnya kamera harus bersensor full frame (36 x 24 mm) bukan APS-C. Sayangnya kamera DSLR jaman sekarang sebagian besar bersensor APS-C jadinya tanda tersebut kurang begitu relevan/akurat.
Di lensa 35mm f/1.8G, tidak ada tanda jarak fokus dan hyperfocal
Di lensa 35mm f/1.8G, tidak ada tanda jarak fokus dan hyperfocal
Lensa yang dibuat di era kamera film biasanya memiliki jarak fokus dan tanda hyperfocal yang jelas
Lensa  yang dibuat di era kamera film biasanya memiliki jarak fokus dan tanda hyperfocal yang jelas dan cukup lengkap
Di era autofokus (AF), menerapkan teknik ini menjadi lebih sulit karena lensa-lensa modern tidak memiliki tanda hyperfocal distance (tanda jarak fokus hyperfocal yang terukir di lensa). Jika Anda mengunakan lensa jaman dahulu, periksalah lensa Anda.
Langkah-langkah mengunakannya cukup mudah.
  1. Tentukan nilai aperture/bukaan yang dikehendaki, misalnya f/22
  2. Putar laras fokus sampai angka 22 yang terletak disebelah kiri yang sejajar dengan tanda tak terhingga
  3. Bacalah angka sebelah kanan yang sejajar dengan angka 22
Dalam kasus lensa Nikkor AF 50mm f/1.8D ini, saya mendapatkan jarak kurang lebih 2 meter. Artinya, objek yang terletak 2 meter sampai tak terhingga akan fokus (tajam).
Jarak hyperfocal
Set tanda tak terhingga sejajar dengan 22 dan perhatikan angka di sebelah kiri yang sejajar dengan angka 22. Kira-kira jatuh pada angka 2 meter (antara 1.5-3 meter).
Di lensa jaman sekarang biasanya tanda hyperfocal dihapus, yang ada cuma jarak fokus saja. Jika tetap ingin mengunakan teknik ini maka diperlukan tabel atau kalkulator. Tapi metode kalkulator ini juga sulit diterapkan karena kebanyakan lensa tidak memberikan tanda jarak fokus secara lengkap.
Keuntungan teknik hyperfocal adalah Anda tidak perlu mengaktifkan autofokus (tidak perlu menekan setengah tombol jepret), jadi bisa jadi lebih cepat dalam memotret. Kelebihan ini banyak digunakan oleh street photographer untuk merekam momen dengan cepat.
Teknik ini tidak begitu cocok saat mengunakan lensa yang berbukaan besar, rentang jarak fokus hyperfokal sempit, jadi kemungkinan objek yang ingin difokuskan bisa jadi gak fokus. Oleh sebab itu, teknik ini lebih cocok saat mengunakan bukaan yang kecil dan lensa yang lebar.

Mengunakan tabel

Jika lensa yang digunakan tidak memiliki tanda depth of field, maka cara lain yaitu dengan menghitung dengan kalkulator atau melihat tabel. Contohnya: Jika mengunakan kamera bersensor APS-C dan lensa 24mm, bukaan f/22 maka jarak hyperfocalnya adalah 0.9 m. Artinya apa saja yang terletak dari jarak (0.9 m / 2) = 0.45 m sampai tak terhingga akan berada dalam fokus/tajam.
Untuk membuat tabel, rekomendasi saya adalah halaman di website ini.
kalkulator-fokus-hyperfocal

Segitiga Emas Fotografi

Kunci dari mendapatkan foto yang ideal tergantung dari segitiga emas fotografi. Segitiga emas fotografi adalah bukaan (aperture), kecepatan rana (shutter speed) dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan gelap terangnya sebuah foto.

BUKAAN / APERTURE / DIAFRAGMA

Aperture adalah bukaan lensa kamera dimana cahaya masuk. Bila bukaan besar, akan banyak cahaya yang masuk dibandingkan dengan bukaan kecil. Selain merupakan salah satu cara mengendalikan cahaya yang masuk, bukaan di gunakan juga untuk mengendalikan kedalaman ruang (depth of field / dof).
Dalam prakteknya, jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.
Bukaan juga bisa digunakan untuk mengendalikan kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.
Hal yang unik dan sering membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil. Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya.
Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti f/3.5-5.6 berarti makimum bukaan bervariasi antara f/3.5 sampai f/ 5.6.

SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Semakin lama durasinya, semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera dan hasil foto akan bertambah terang.
Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera bukan dari lensa.
Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:
  1. Kecepatan rana yang cepat membekukan (freeze) objek yang bergerak.
  2. Kecepatan rana yang lama menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.
Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.
ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.
Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.
Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Anda akan bisa membuat foto Anda menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Anda.

Supaya Foto Tidak Blur

Biasanya, kesalahan fotografer pemula adalah salah memperhitungkan shutter speed (kecepatan rana) sehingga foto menjadi blur.

Ada dua faktor utama yang membuat foto menjadi blur

blur-foto-gambarPertama adalah setting kecepatan rana Anda terlalu lambat dibandingkan dengan jarak fokus (focal length) lensa Anda. Pada umumnya, supaya foto Anda tidak blur akibat getaran tangan kita, rumusnya adalah 1 / jarak fokus lensa. Contoh, bila Anda mengambil foto dalam jarak fokus 100mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/100.
Rumus ini berlaku bila Anda mengunakan kamera full frame sensor. Untuk kamera Digital SLR yang ada dipasar, sebagian besar mengunakan sensor yang lebih kecil. Sensor ini bervariasi antara kamera yang satu dengan yang lain. Tetapi pada umumnya Canon mengunakan 1.6X, Nikon, Sony, Pentax mengunakan 1.5X dan Olympus mengunakan 2X. Dengan adanya variasi tersebut, maka perhitungannya menjadi sedikit lebih rumit.
Kembali ke contoh awal dimana Anda memutuskan mengunakan jarak fokus 100mm di kamera Canon Rebel yang mengunakan 1.6X jadinya minimal Anda harus mengunakan 1/160 untuk mencegah blur. (Didapatkan dari 100mm X 1.6).
Mengapa semakin besar rentang fokalnya, Anda harus mengunakan kecepatan rana yang lebih cepat? hal ini dikarenakan semakin besar rentang fokal, maka semakin sensitif sensor dalam menangkap getaran.
Faktor kedua adalah benda yang Anda foto bergerak cepat, sehingga kecepatan rana pun harus mengikuti cepatnya gerak subjek foto tersebut. Contohnya, untuk membekukan gerakan pemain basket orang orang berlari, minimal Anda memerlukan 1/500. Untuk penari dan penyanyi, biasanya 1/200 cukup, dan untuk foto manusia yang tidak bergerak 1/60 biasanya cukup baik.
Joe Decker dari blog foto Photocrati mengenalkan faktor baru yaitu ukuran piksel sensor mempengaruhi blur. Katanya, kamera yang berukuran sensor sama, tapi resolusi gambar tinggi, memerlukan kecepatan rana yang lebih cepat karena ukuran piksel yang kecil lebih sensitif dalam mendeteksi getaran. Kalau teori ini benar, maka kamera yang berukuran 15 megapiksel akan lebih rawan blur daripada kamera yang berukuran 6 megapiksel.

Cara mencegah

Ada juga teknologi dalam kamera maupun lensa yang ditujukan untuk mencegah blur. Jenis teknologi ini terbagi atas dua kategori. Yang pertama dibuat dalam kamera, satunya lagi didalam lensa. Namanya pun bervariasi. Antara lain yaitu Image Stabilization (IS) atau Vibration Reduction (VR), Steady Shot (SS), Shake Reduction (SR) Mega OIS, Optical Stabilization (OS) and Vibration Compensation (VC). Semuanya berfungsi sama hanya istilahnya berbeda. Teknologi ini bisa membantu Anda tapi tidak bisa membantu secara total. Misalnya yang tadinya Anda harus mengunakan 1/200, tapi dengan bantuan teknologi ini, Anda bisa mengunakan 1/100 atau 1/60. Teknologi ini juga tidak bisa mencegah blur saat And amengambil foto orang atau benda yang bergerak cepat.
Hal lain yang bisa digunakan untuk mencegah blur antara lain yaitu teknik memegang kamera atau teknik pernafasan. Dengan menahan nafas saat mengambil gambar, dan memposisikan tubuh dengan rapat atau menyender di dinding, bisa membantu mengurangi getaran yang menghasilkan blur.

Hidung Tersumbat

Hidung tersumbat atau lebih dikenal dengan pilek adalah salah satu masalah kesehatan hidung yang sering terjadi pada banyak orang. Ada puluhan produk obat untuk menyingkirkan masalah hidung tersumbat, tapi itu mereka bukan pilihan terbaik. Bagaimana menyingkirkan hidung tersumbat tanpa obat?
Latihan pernapasan adalah salah satu cara yang memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Telah digunakan oleh ribuan pasien yang mempraktekkan terapi pernafasan medis Buteyko, untuk mengurangi pernapasan lewat mulut akibat hidung tersumbat, dan meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh, dengan cara bernafas yang benar selama 24 jam dalam 7 hari. Cobalah latihan pernapasan sebagai cara cepat untuk menyingkirkan hidung tersumbat Anda.


Latihan Pernapasan untuk menyingkirkan masalah Hidung Tersumbat :
Latihan pernapasan ini dilakukan dengan cara menahan nafas dan menganggukan kepala (ke atas dan ke bawah). Dalam waktu 1 menit, hidung tersumbat Anda akan hilang.Bagaimana hal tersebut dapat bekerja ? Dengan menahan napas Anda dan bernapas sedikit kemudian setelahnya, Anda dapat meningkatkan kadar karbondioksida dalam darah Anda. Hal ini membantu melebarkan otot tubular saluran udara serta pembuluh darah, sehingga meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jaringan dan melepaskan kejang pada otot saluran udara.

Setelah hidung tersumbat Anda reda, penting untuk bernapas hanya melalui hidung dan bukan melalui mulut Anda. Jika Anda bernapas melalui mulut Anda (bahkan hanya dengan mulut yang terbuka sebagian) ada beberapa proses biokimia abnormal yang mengubah semua fungsi tubuh Anda seperti Anda akan merasakan kurang darah dan suplai oksigen untuk sel-sel tubuh Anda, dan berkurangnya CO2 dalam arteri dan sel, sistem kekebalan tubuh Anda akan melemah, Anda akan lebih banyak mendapatkan radikal bebas, bahkan otak, saluran pencernaan, hormon dan semua fungsi lainnya akan mengalami perubahan abnormal.
Jika Anda menghitung seberapa lama Anda dapat menahan napas dalam keadaan hidung tersumbat, Anda akan temukan bahwa hasilnya sangatlah singkat. Tes ini juga disebut “Test Oksigen tubuh” karena mencerminkan kadar oksigen dalam tubuh anda
Ketika hidung Anda tersumbat, napas Anda akan menjadi berat dan Anda akan memiliki kurang dari 20 detik dalam menjalankan uji kadar oksigen tubuh Anda. Jika Anda memperlambat pola pernapasan Anda (dengan menggunakan pola napas yang benar dan perubahan gaya hidup), maka hasil test Anda pasti di atas angka 20 detik, hidung Anda akan menjadi lega.


Oleh karena itu untuk menyingkirkan hidung tersumbat secara permanen caranya adalah dengan menyingkirkan napas berat Anda secara permanen, termasuk pada saat tidur malam, saat stres, setelah makan, dan dalam segala situasi lainnya. Latihan yang baik, jika Anda bernapas hanya melalui hidung selama itu.
Artour Rakhimov, PhD pembuat situs NormalBreathing.com mengatakan “Pernapasan normal Mengalahkan Penyakit Kronis”. Kenapa? Hal ini karena orang yang memiliki masalah kesehatan selalu memiliki pernapasan abnormal dan masalah dengan kadar oksigen yang rendah dalam tubuhnya.

Search