Pages

Tampilkan postingan dengan label Wonderful Tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wonderful Tulungagung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2015

Pantai Sine

Pantai yang terletak di Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir atau sekitar kurang lebih 35 km kearah selatan dari kota Tulungagung ini mempunyai keindahan dan panorama alam yang begitu indah. Pantai Sine ini merupakan pantai bebas dengan ombak yang cukup besar selain itu Pantai Sine ini merupakan pantai alam berbentuk teluk di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung.

Di sebelah utara terdapat tebing dengan pancuran alami yang mana airnya berasal dari mata air di atasnya dan di sebelah selatan Pantai Sine terdapat hutan yang masih terlindungi dan keberadaan pasar ikan tradisional yang pastilah menambah keindahan Pantai Sine. Walaupun menghabiskan waktu yang lumayan lama dari pusat kota tetapi perjalanan menuju wisata Pantai ini sangatlah menyenangkan karena melewati pegunungan dan perbukitan yang sangat indah.

Selain menyajikan keindahan alami Pantai Sine ini juga menyajikan keragaman budaya lokal masyarakat sekitar, misalnya kesenian wayang kulit yang dipertunjukkan setiap tanggal satu suro, dan ada juga prosesi larung sesaji yang berguna untuk menangkal mara bahaya ataupun acara mencuci atau memandikan gaman seperti keris dan tombak dari para sesepuh masyarakat.

Candi Boyolangu

Candi Boyolangu merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara. Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Candi ini ditemukan kembali oleh masyarakat pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Bangunan pertama disebut dengan bangunan induk perwara, karena bangunan ini berukuran lebih besar dibanding dengan bangunan kedua dan bangunan lainnya. Letak bangunan ini di tengah bangunan lainnya.

Candi Boyolangu berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulunaggung, Wilayah Provinsi Jawa Timur.

Bangunan induk perwara terdiri dari dua teras berundak yang hanya tinggal bagian kakinya. Bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan panjang dan lebar 11,40 m dengan sisa ketinggian kurang lebih 2,30 m (dengan mengambil sisi selatan).

Di dalam bangunan ini terdapat sebuah sempalan arca wanita Budha dan beberapa umpak berukuran besar. Kondisi arca sudah rusak, namun masih terlihat baik. Bagian kepala dan anggota tangan arca hilang karena pengrusakan. Oleh para ahli arca ini dikenal dengan nama Gayatri. Gayatri adalah salah satu dari keempat anak raja Kertanegara (Singosari) yang kemudian diwakili Raden Wijaya (Majapahit). Pada masa hidupnya, Gayatri terkenal sebagai pendeta wanita Budha (Bhiksumi) kerajaan Majapahit dengan gelar Rajapadmi.

Bentuk arca menggambarkan perwujudan Dhyani budha Wairocana dengan duduk diatas padmasanan (singgasana) berhias daun teratai. Sikap tangan arca adalah Dharmacakramudra (mengajar). Badan arca dan padmasana tertatah halus dengan gaya Majapahit. Sedangkan jumlah umpak pada bangunan perwara ini ada tujuh buah dengan dua umpak berangka tahun 1291 C (1369 M) dan 1322 C (1389 M). Dengan adanya umpak-umpak tersebut diduga bangunan Candi Boyolangu dahulunya memakai atap, mengingat fungsi umpak pada umumnya sebagai penyangga tiang bangunan.

Berdasarkan angka tahun pada kedua umpak bangunan induk (1369 M dan 1389 M) maka diduga Candi Boyolangu dibangun pada zaman Majapahit masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1359 M s/d 1389 M). Sedangkan sifat, nama, dan tempat bagunan disebutkan dalam Kitab Kesusastraan Nagarakertagama karangan Mpu Prapanca (masa Majapahit pemerintahan Raja Hayam Wuruk) bahwa di Boyolangu terdapat bangunan suci (candi) beragama Budha dengan nama Prajnaparamitapuri.

Bangunan perwara yang kedua berada di selatan bangunan induk. Keadaan bangunan hanya tinggal bagian kaki dan berdenah bujursangkar dengan ukuran panjang dan lebar 5,80 m. Adapun bangunan perwara ketiga berada di utara bangunan induk perwara. Kondisi bangunan sudah runruh dan berdenah bujur sangkar dengan ukuran panjang dan lebar masing-masing 5,80 m.

Latar Belakang Sejarah

Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1914, yang menurut informasi sejarah dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1359 s/d 1389 M). Sumber lainnya menyebutkan bahwa candi ini merupakan penyimpanan abu jenazah Gayatri yang bergelar Rajapadmi.

Berdasarkan pada angka tahun terdapat pada bangunan induk diketahui bahwa candi ini dibangun pada zaman Majapahit, yaitu sekitar abad XIV. Pembangunannya dikaitkan dengan tokoh wanita yang diduga adalah Gayatri. Menurut kitab Nagarakertagama bangunan ini didirikan pada masa Pemerintahan Hayam Wuruk (1359 s/d 1389 M) dengan nama Prajnaparamitaputri (Slamet Mulyana, 1979).

Menurut keterangan para ahli bangunan ini merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Gayatri setelah jenazahnya dibakar di lokasi lain yang berdekatan.

Situs ini berada pada dataran yang berjarak hanya sekitar 6 km di sebelah selatan kota Tulungagung. Di sekitarnya cukup banyak situs lain yang dapat dikatakan se-zaman. Sekitar 1 km di sebelah timurnya terdapat Candi Sanggrahan yang menurut cerita merupakan tempat persinggahan pada saat menuju Candi Boyolangu atau Candi Gayatri.

Latar Belakang Budaya

Situs ini dahulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan masyarakat pendukungnya dalam pemuliaan tersebut Gayatri diwujudkan sebagai Dyani Budha Wairocana dengan sikap Dharmacakramuda.

Hal tersebut didukung dengan temuan berupa sumuran dan arca perwujudan Majapahit. Melihat pada Arca Pantheon Dewa dan wahananya, dapat ditentukan bahwa situs berlatar belakang agama Hindu.

Pada masa Indonesia kuno, candi dikenal sebagai tempat pemujaan, temapat raja/penguasa yang telah meninggal dimanifestasikan sebagai arca perwujudan yang sekaligus dijadikan sarana pemujaan masyarakat pendukungnya.

Artinya tempat tersebut selain berfungsi sebagai tempat pemujaan juga sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja/penguasa.

Fungsi candi persinggahan itu cukup menonjol mengingat berbagai sumber menyebutkan peran Candi Boyolangu sebagai tempat keramat yang di sekar para pembesar Majapahit setiap bulan Badrapada.

Di bagian selatan Candi Boyolangu ini, seolah-olah melingkarinya, terdapat situs-situs lain yang berada di perbukitan. Bermula dari Gua Tritis di sebelah Barat Daya, terus ke Tenggara adalah situs-situs Goa Selomangkleng, Candi Dadi dan Goa Pasir. Jarak antara Boyolangu dan masing-masing situs berkisar antara 2 - 4 km.

Situs Karsyan Goa Pasir

Bagi warga Masyarakat Tulungagung siapa yang belum mengenal Goa Pasir, Goa yang terletak di Dukuh Pasir Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol atau tepatnya di sisi utara pegunungan kapur selatan (Gunung Podo) ini ternyata banyak menyimpan berbagai benda purbakala (Patung, berbagai pahatan/relief yang ada di antara bebatuan, makam kuno dan goa) yang dapat dijadikan obyek wisata sejarah maupun cagar budaya.

Dari Buku yang berjudul TABUTA (Tapak Budaya Tulungagung) karangan Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs Karsyan Goa Pasir yang terletak di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan yang berisi banyak relief (goa I) dengan ukuran goa 260 x 175 cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah tanpa disertai dengan tangga batu. Dan goa II yang tidak ber-relief dengan posisi tebing bawah dengan keadaan mulut lebih besar dari goa I berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap ke barat.

Dalam buku TABUTA juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu “Situs Goa Pasir“ dan fungsinya sebagai karsyan maka kedua Goa tersebut waktu itu difungsikan sebagai pertapaan. Hal tersebut didukung dengan banyaknya temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun tanah, hal ini selaras dengan esoteris dari Hindu sekte Siwa Shidanta yang lazim di jalankan di lingkungan karsyan yang sifatnya tertutup.

Temuan lain di situs Goa Pasir berupa sisa struktur bangunan, berbangun bujur sangkar dengan ukuran sisi 700 cm berupa tatanan batu bata yang semula diperkirakan sebagai pondasi suatu asrama (rumah tinggal semi permanen bagi para Resi) dan hingga kini yang tersisa dari bangunan ini adalah bagian bangunan yang tampak di permukaan tanah yang berada di sisi selatan dan barat.

Selain itu di area situs juga terdapat arca-arca lepas batu adesit, sedangkan arca yang tersisa berupa dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesha (Putra kedua dari Dewa siwa dan parwati/uma) peninggalan kerajaan Majapahit dan ini di indikatori berupa pahatan teratai yang tumbuh dari vas bunga yang dipahat pada sandaran kanan kiri kaki arca.

Berdasarkan catatan penelitian N.J. Krom dan Verbeek di situs Goa pasir pernah ditemukan arca batu yang sandarannya dipahatkan konogram saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit, juga pernah ditemukan kronogram yang bertarikh Saka 1228 (1306 M), menunjuk pada zaman Majapahit oleh karena itu situs Karsyan Goa pasir diperkirakan sebuah peninggalan zaman Majapahit.

Goa Selomanggleng

Kompleks Goa Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, merupakan lereng Jurang Sanggrahan yang cukup terjal. Berbatasan dengan kebun milik penduduk, kompleks ini dapat dibedakan atas dua bagian, yakni bagian yang sekarang agak datar yang berada di bagian bawah, serta bagian yang terjal di bagian atas. Di bagian pertama itulah terdapat dua buah goa, sedangkan sebuah candi terdapat di bagian kedua.

Ketiga kekunoan tersebut merupakan hasil pengerjaan pada bongkahan batu besar, memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu. Goa pertama berada di bagian tanah yang relatif datar, merupakan hasil pengerukan terhadap sebuah bongkah batu besar (monolit) dengan bentuk mulut persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief, sedangkan goa kedua tidak memilki relief. Lahan yang ditempati bongkahan batu bergoa tersebut meliputi areal seluas 29,5 m x 26 m. Ukuran bagian dalam goa pertama adalah: panjang 360 cm, lebar 175 cm, dan dalam ceruk 380 cm. Mulut goa mengahadap ke arah arah barat. Relief dipahatkan pada panel di dinding sisi timur dan utara. Hiasan itu menggambarkan bagian dari cerita Arjunawiwaha, yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila.

Digambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kahyangan ke bumi. Gua kedua terletak di bagian selatan dari goa pertama, pada bongkah yang sama, tetapi pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan goa pertama. Goa yang di bagian selatan ini menghadap ke selatan dan tidak memiliki hiasan apapun di dalamnya. Ukurannya panjang 360 cm dan lebar 200 cm

Beberapa meter di sebelah timur goa tersebut, pada tempat yang lebih tinggi terdapat bongkahan batu yang dipahatkan kaki dan batur candi berdenah persegi empat dengan ukuran panjang 490 cm dan lebar 475 cm. Dinding batur candi tersebut dihiasi palang Yunani berbingkai bujursangkar.

Latar Belakang Sejarah

Secara khusus tidak dijumpai keterangan yang dapat diacu untuk mengenal lebih dalam lagi latar belakang sejarah situs tersebut. Menghubungkan kesamaan relief yang terdapat di goa Selomangleng dengan yang dijumpai di Petirtaan Jalatunda, A. J. Bernet Kempers menduga bahwa situs tersebut dibuat dan digunakan pada akhir abad X. Sebaliknya, berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit.

Di Tulungagung, relief yang dipahatkan mengambil cerita bagian dari Arjunawiwaha, khususnya pada episode penggodaan bidadari terhadap Arjuna yang sedang menjalankan tapa. Ini mencerminkan kedekatan mereka akan wiracarita gubahan para pujangga sejak zaman Kerajaan Kadiri. Sekaligus untuk mengingatkan mereka akan laku yang sedang ditekuninya, serta harapan bahwa kekuatan yang terkandung dalam kisah cerita tersebut dapat terwujud.

Jumat, 21 November 2014

Air Terjun Kandung yang Terlupakan

Keindahan ekosistem kars di Tulungagung memang tak diragukan lagi. Dan ternyata, untuk mencicipi salah satunya kita tidak perlu jauh-jauh meninggalkan Blitar.  Tepatnya di kawasan hutan lindung di Kecamatan Rejotangan (kira-kira Desa Tanen, mungkin juga Sumberagung) terdapat sebuah air terjun batu kapur yang sangat elok, air terjun tersebut dikenal sebagai air terjun Kandung. Kabar mengenai air terjun ini kami ketahui setelah secara tidak sengaja browsing di internet. Setelah waktu memungkinkan, kami pun meluncur ke TKP.
Seperti biasa, kami selalu berangkat dengan ketidaktahuan. Rute yang dipilih pun asal saja, yang penting setelah melewati perbatasan Blitar-Tulungagung kami harus segera mencari jalan keselatan. Penyusuran kami akhirnya sampai di Desa Sumberagung. Dari sini kami sudah ndak tau arah. Kami pun memutuskan untuk bertanya pada warga setempat. Warga yang kami jumpai ternyata segera tanggap. Beliau menjelaskan dengan terampil,”ikuti jalan saja mas, sawah lurus, perempatan setelah sawah belok ke selatan.” Berbekal arahan tersebut kami pun melanjutkan perjalanan.
Setelah mengikuti arahan dari warga, jalanan yang kami lalui mulai berkelok dan menanjak, aspal yang tadinya setia menemani kini sudah berganti dengan macadam. Laju motor segera terhenti dan kami pun terperanjat melihat apa yang ada dihadapan kami. Disini tampak sebuah wanawisata yang sepertinya sudah lama ditinggalkan. Puing-puing bangunan dan gazebo-gazebo yang telah rusak membuat kawasan ini tampak mencekam. Namun semua ini tidak menyurutkan pencarian kami.
Suara gemercik air terjun terdengar dengan jelas disini, namun kami tidak juga menjumpai kenampakannya. Setelah mondar-mandir di dalam hutan selama 20 menit, kami mulai menemukan titik terang. Dengan metode coba-coba akhrinya kami melihat puncak dari air terjun Kandung. Kami pun bergegas dan… Inilah mahakarya yang tesembunyi… AIR TERJUN KANDUNG..
Benar-benar sebuah mahakarya. Hijaunya lumut yang berpadu dengan rona batuan kapur, membuat air terjun ini begitu istimewa. Keelokannya semakin terpancar dengan adanya rerumputan yang menghiasi puncak air terjun.
Dibawah air terjun dapat dijumpai dua buah kolam alami yang bertingkat. Airnya jernih keputihan menggoda siapa saja untuk berendam. Sekali lagi, air terjun Kandung benar-benar sebuah mahakarya yang tiada duanya.
Perang batin pun mulai menghinggapi kami, “mengapa air terjun yang begitu eksotis ini ditinggalkan begitu saja?” Pikiran itu terus mengganggu hingga kami menyudahi perjalanan ini. Namun itu semua tak merubah apapun. Semoga perjalanan ini dapat mengembalikan eksistensi air terjun Kandung yang terlupakan.

Pesona Air Terjun Lawean Sendang, Tulungagung

Jalan-jalan ke Tulungagung, Jawa Timur jangan sampai kelewatan kuliner khasnya yaitu ayam lodho yang top markotop.
Bingung cari destinasi wisata di Tulungagung? Kita bakal kasih tau nih wisata alam yang murah, alami, dan asri. Pengen tau? Air Terjun Lawean Sendang tempatnya.
sumber: www.e-bloggertulungagung.blogspot.com
sumber: www.e-bloggertulungagung.blogspot.com
Air Terjun Lawean terletak di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang berjarak sekitar 25 km arah barat dari kota Tulungagung.
Untuk menuju lokasi air terjun, traveler harus berjalan sekitar 3 km melewati perbukitan yang indah dan menyeberangi sungai-sungai yang jernih.
sumber: www.potlot-adventure.com
sumber: www.potlot-adventure.com
Sampai di depan air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 100 m ini, traveler akan disuguhkan pesona air terjun yang bertingkat dan bercabang. Di sini  traveler dapat melepas lelah dengan sekedar bermain air atau mandi. Konon, mandi di sini dapat menyembuhkan penyakit lho.
Tempat ini memang cocok buat yang berjiwa petualang. Jadi, kalau traveler termasuk petualang sejati, coba deh ke sini. :)
Salam traveler sejati!

Pesona Pantai Popoh

Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki beberapa objek wisata yang cukup menarik seperti Bendungan Wonorejo dan wisata Pantai Popoh. Pantai Popoh merupakan objek wisata andalan kabupaten ini. 

Pantai Indah Popoh terletak di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Tulungagung dan bisa ditempuh selama 1 jam perjalanan. Pantai Popoh ini berbentuk teluk yaitu laut yang menjorok ke darat dan berada di timur Pegunungan Kidul.

pantai popoh
Pantai Popoh
Pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang terkenal ganas ombaknya. Namun di Pantai Popoh ini ombaknya relatif tenang. Sebenarnya Pantai Popoh terbagi menjadi 2 bagian. Pertama di sebelah timur dengan kondisi pantai penuh batu karang dan ombak yang ganas. Sedangkan di Pantai Popoh sebelah barat ini kondisi pantainya landai dengan ombak yang tidak terlalu besar.

wisata pantai popoh
Perahu Nelayan
Pantai yang berada tidak jauh dari Pantai Sidem dan Pantai Prigi ini berpasir putih kecoklatan dengan dihiasi pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang tepi pantai. Memandang ke tengah laut, terlihat puluhan perahu nelayan yang sedang melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Untuk menuju ke pantai ini cukup mudah, karena akses jalan yang baik dan beraspal. Bila dari Surabaya, sobat bisa mengikuti rute sebagai berikut : Surabaya - Mojokerto - Jombang - Kertosono - Kediri - lalu ke arah pusat Kota Tulungagung.

Sedangkan dari Kota Malang melalui Kepanjen - Wlingi - Blitar - pusat Kota Tulungagung. Dari Tulungagung menuju ke lokasi Pantai Popoh, pengunjung akan melewati daerah perbukitan dengan kondisi jalan menanjak dan berkelok-kelok. Namun jangan kuatir, pemandangan di sepanjang jalan perbukitan ini akan memanjakan mata sobat. Hutan jati yang hijau dan asri membuat perjalanan sobat akan menyenangkan.

pantai popoh
Pendopo
Sampai di pintu masuk kawasan wisata, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp 3 ribuper orang ditambah biaya parkir kendaraan. Memasuki kawasan pantai terlihat sebuah jogloatau pendopo yang biasanya digunakan sebagai panggung hiburan seperti electone dan kegiatan lainnya.

Bila ingin bermalam di pantai ini, pengunjung bisa menyewa penginapan berupa hotel atau vila dengan tarif antara Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu per malam. Jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas Tulungagung berupa kerajinan marmer dan kerajinan kerang dengan harga bervariasi mulai Rp 3 ribu - Rp 100 ribu. Bagaimana tertarik untuk liburan di Pantai Popoh ini?.

Kamis, 20 November 2014

Pantai Coro, Surga Pribadi Di Ujung Selatan

13882356571889807797
Pantai Coro dari Atas Bukit
Bingung mau liburan kemana? yang tidak macet, bisa buat fresh pikiran, dan murah pula. Mungkin Kompasianer semua bisa mencoba lokasi yang saya tuju saat liburan natal kemarin, Pantai Coro.

Hahhh, CORO???

Tenang, jangan langsung membayangkan kecoa atau semacamnya. Di Pantai Coro dijamin tidak ada kecoa sama sekali. Teman saya sekaligus guide selama perjalanan menulusuri pantai tersebut juga tidak tahu kenapa dinamakan pantai Coro. Sudah lah jangan mikirin asal muasalnya.
Pantai Coro terletak di selatan Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Tulungagung. Bagi kompasianer yang berasal dari Jawa Timur, pasti sudah tak asing dengan ikon wisata Tulungagung, yakni pantai Popoh. Lokasi pantai Coro sendiri bersebelahan dengan pantai Popoh, tepat di sebelah timur. Namun ada bedanya, pantai Popoh mudah diakses tetapi pantai Coro sedikit butuh perjuangan untuk mencapainya. Dari pusat kota Tulungagung, menuju ke selatan sejauh 35 km. Sudah jarang kendaraan umum yang mengangkut penumpang dari tengah kota menuju pantai Popoh. Jadi, untuk mencapai pantai Coro, kendaraan yang bisa diandalkan adalah kendaraan pribadi atau sewa.

Karena letaknya yang bersebelahan dengan pantai Popoh, pintu masuk pantai Coro juga bersatu dengan pantai Popoh. Setelah melewati pintu gerbang, jalan bercabang dua. Arah kanan mengarah ke pantai Popoh dan kiri mengarah ke pantai Coro. Saat terlihat monumen reco sewu (arca seribu) disitulah kendaraan harus berhenti. Lokasi parkir terletak dekat dengan reco sewu dan di parkiran tersebut ada satu-satunya kios makanan ringan (snack) dan minuman. Oleh sebab itu, bagi petualang yang tidak membawa bekal bisa membeli di situ juga karena selama perjalanan maupun di lokasi pantai sudah tidak ada lagi kios yang ditemukan.

Jarak dari parkir menuju pantai sekitar 2 km dan waktu yang diperlukan untuk menuju pantai Coro kurang lebih 30 menit. Meskipun terbaca cukup jauh dan lama, suguhan selama perjalanan cukup menyenangkan. Perjalanan menuju pantai Coro di mulai dengan melintasi perumahan penduduk dan dilanjutkan melewati perbukitan. Ladang penduduk terhampar sepanjang bukit menuju pantai Coro. Bila cuaca cerah, jalanan enak dilalui, tapi jika cuaca hujan bersiaplah melewati jalan berlumpur. Padi, pisang, ketela pohon dan beberapa pohon jati menjadi komoditas yang di tanam penduduk sekitar. Tapi jangan diambil untuk perbekalan ya, kecuali kepepet, hahaha. Bukan cuma ladang, pemandangan lain yang bisa dinikmati adalah tujuh sungai yang harus dilalui sebelum mencapai lokasi pantai. Saat bertanya pada penduduk setempat, pasti mereka akan menjawab pantai coro ada setelah melewati tujuh kali (sungai).
Seru bukan….

Tenang, jangan bayangkan sungai yang akan dilewati seperti Bengawan Solo, Musi, atau Kapuas yang lebar sekaligus dalam. Ke tujuh sungai itu lebarnya hanya 1 sampai 3 meter dengan kedalaman hanya sampai mata kaki saja. Sungai pertama yang dilalui merupakan sungai terlebar, yakni sekitar 3 meter. Bila pun selama perjalanan merasa capai dan butuh istirahat, kita bisa berteduh sejenak di gubuk - gubuk penduduk.

13882354641948008010
Jalan Setapak menuju Pantai Coro

Setelah berlelah-lehan selama 30 menit, penat akan langsung terbayar saat bulan sabit muncul dari balik bukit. Yap, itulah pantai Coro yang masih perawan, berpasir putih. Layaknya surga pribadi dunia, di pantai ini bisa berjemur sepuasnya maupun bermain air sampai capai tanpa takut keramaian dari pengunjung lain. Keindahan pantai Coro sangat dipengaruhi cuaca, bila sedang musim hujan, bersiaplah menemui ombak besar dan air laut naik. So, jika anda ingin mengunjungi pantai Coro, sebaiknya saat musim kemarau saja.

1388235020113153521

13882348321811490662

Pantai Sanggar, The Dreamland of Tulungagung

Pantai Sanggar terletak di Dusun Ngelo, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur.  Atau sekitar 37 km dari kota Tulunggaung. Pantai Sanggar masih merupakan salah satu gugusan pantai selatan pulau jawa. pantai ini merupakan salah satu pantai perawan yang ada di Tulungagung. dan merupakan Dreamland nya Tulungagung.

Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09247Custom_zpse246228d.jpg

Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09264Custom_zps9ff3ad62.jpg


Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09313Custom_zps0ccea270.jpg
Pantai sanggar sangat jernih dan bersih karena masih jarang dikunjungi wisatawan. dengan pesona pasir putihnya dan deburan ombak yang cukup besar membuat semakin indah pantai ini. garis pantai di pantai ini juga cukup panjang dan di hiasi karang karang yang indah saat surut. dan di saat itu juga banyak ikan ikan kecil, lobster, dan ubur - ubur  yang bisa anda jumpai di antara karang karang. terkadang bintang laut dan kuda laut pun terjebak di situ juga.
 Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09314Custom_zps8379fabf.jpg
Pantai Sanggar belum dikelola oleh pihak manapun. dan untuk menjangkaunya butuh perjuangan yang extra. tapi buat pecinta adventure lokasi ini sangat cocok. karena jalan di dusun ngelo masih belu di aspal dan berlumpur saat musim hujan. buat yang membawa roda 4 dusun ngelo adalah batas terakhir kendaraan, dan harus jalan kaki sejauh 3 km menyusuri bukit bukit yang indah. jika membawa kendaraan roda 2 anda bisa beradventure ria sampai di bibir pantai tapi harus extra hati hati jika sampai jatuh bisa bisa terperosok ke jurang. tapi kalau takut motor bisa di titipkan di warga dusun ngelo.
 Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09332Custom_zps6878bb57.jpg
Pantai Sanggar Tulungagung photo DSC09335Custom_zpsa27f1852.jpg
Pantai Sanggar juga bersebelahan dengan Pantai Ngalur yang keindahannya juga tidak kalah menarik. jadi sekali jalan anda bisa menjangkau 2 lokasi sekaligus karena pantai sanggar dan pantai ngalur hanya di pisahkan oleh tebing karang (bukit).

Selasa, 18 November 2014

Asal-Usul Nama-Nama Daerah di Tulungagung

PERGURUAN PACET

Pada jaman pemerintahan Majapahit hubungan antara daerah pedalaman sangat sulit, sehingga keamanan di sebelah selatan sungai Brantas tidak dapat dikuasai. Sering disana-sini timbul pemberontakan. Berdirinya perguruan-perguruan sangat besar manfaatnya bagi kepentingan raja, karena selain mengajarkan ilmu, para guru umumnya juga merupakan mata telinga daripada perguruan negara. Demikian juga hubungannya dengan perguruan di dukuh Bonorowo, dekat Campurdarat yang terkenal dipimpin oleh seorang sakti bernama Kyai PACET. Kyai Pacet mengajarkan ilmu Joyokawijayan. Ia mempunyai murid-murid pilihan diantaranya :
v Pangeran Kalang dari Tanggulangin.
v Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak.
v Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek.
v Kyai Kasanbesari tua-tua dari dukuh Tunggul.
v Kyai Singotaruno dari dukuh Plosokandang.
v Kyai Sendang Gumuling dari desa Bono.
v Pangeran Lembu Peteng putra Majapahit (termasuk murid baru).

Pada suatu hari Kyai Pacet telah mengadakan pertemuan dengan para murid-muridnya. Pada pertemuan itu selain memberikan wejangan-wejangan ilmu, Kyai Pacet juga menceritakan bahwa diantara murid-muridnya ada yang mendirikan paguron, tetapi sayangnya tidak memberitahukan hal itu gurunya. Kyai Kasan Besari merasa tertusuk perasaannya, dikarenakan dia sendirilah yang mendirikan paguron sebagaimana kata sindiran yang telah diucapkan dihadapannya dengan terus terang oleh sang guru tersebut.
Dengan tanpa pamit seketika itu juga Kyai Kasanbesari meninggalkan tempat pesamuan.
Dengan kepergian Kyai Kasanbesari yang tanpa pamit itu Kyai Pacet lalu menyuruh dua orang muridnya yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem untuk menasehati Kyai Kasanbesari agar menyadari diri dan mau kembali ke Bonorowo untuk tetap menjadi murid Kyai Pacet. Apa sebab Kyai Pacet menunjuk kedua muridnya tersebut?karena ia mengerti bahwa Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem dengan diam-diam juga menjadi muridnya Kyai Kasanbesari. Dengan keberangkatan dua orang utusan tersebut maka Kyai Pacet berpesan pada murid-muridnya yang lain supaya mereka mau tetap di Bonorowo untuk melanjutkan pelajarannya, sedang Kyai Pacet akan mengadakan semadi di dalam sebuah gua. Yang ditugaskan mengawasi di luar gua adalah Pangeran Lembu Peteng.

KYAI KASANBESARI INGIN MEMBUNUH KYAI PACET
Kyai Kasanbesari yang hatinya merasa tersinggung dan masih dalam keadaan marah terhadap gurunya, telah kedatangan dua orang utusan dari Bonorowo yaitu Pangeran Bedalem dan Pangeran Kalang, Dalam wawancaranya Pangeran Bedalem mengatakan, bahwa dia tidak akan mencampuri urusan Kyai Kasanbesari dan Kyai Pacet, dan dia akan terus pulang ke Betak. Sebaliknya Pangeran Kalang malah menunjuki tindakan Kyai Kasanbesari bahkan dibakar semangatnya untuk diajak berotak dan membunuh gurunya.
Setelah berunding masak-masak, maka berangkatlah mereka berdua ke Bonorowo dengan tujuan membunuh Kyai Pacet.
Pada waktu Kyai Kasanbesari dan Pangeran Kalang secara diam-diam masuk ke dalam gua tempat Kyai Pacet bersemedi dengan tanpa diketahui oleh pihak yang mengawasi, maka kedua orang itu merasa sangat terkejut karena dalam penglihatannya mereka telah berjumpa dengan seekor singa yang siap menerkamnya. Kyai Kasanbesari dan Pangeran Kalang cepat-cepat keluar dari gua dan lari tunggang-langgang. Konon, setelah kedua orang itu melarikan diri maka Kyai Pacet memanggil Pangeran Lembu Peteng yang berjaga di luar gua dan ditanya mendengar apakah waktu Kyai Pacet sedang bersemadi. Pangeran Lembu Peteng menjawab, bahwa ia tadi telah mendengar suara “GEMLUDUG”, dan setelah dilihatnya tampak bahwa Kyiai Pacet memegang cahaya yang kemudian diberi nama Kyai Gledhug, sedang desa dimana Kyai bersemedi sampai sekarang bernama Gledhug.
Selesai bersemedi Kyai Pacet segera mengejar kedua oramg yang sedang berlari itu. Kyai Kasanbesari mengerti kalau dikejar, segera mengeluarkan ilmu kanuragannya dengan membanting buah kemiri yang berubah menjadi seekor harimau. Kyai Pacet mengimbanginya dengan membanting bungkul gempaan yang berubah menjadi ular besar. Kedua bintang itu berkelai, harimau kanuragan dari Kyai Kasanbesari kalah dan berubah menjadi buah kemiri lagi. Tempat dimana Kyai Kasanbesari menderita kekalahan oeh Kyai Pacet dinamakan desa Macanbang. KyaiKasanbesari terus berlari melarikan diri, sedang Kyai Pacet bersama Pangeran Lembu Peteng kembali ke padepokan untuk mengerahkan semua muridnya guna menangkap Kyai Kasanbesari dan Pangeran Kalang. Murid dari Kyai Pacet disebar ke seluruh penjuru dengan dipimpin oleh Pangeran Lembu Peteng. Akhirnya Pangeran Lembu Peteng dan teman-temannya dapat berjumpa dengan Kyaibesari dan Pangeran Kalang. Timbullah peperangan yang ramai. Akhirnya Kyai Kasanbesari melarikan diri ke Ringinpitu, sedang Pangeran Kalang dikejar terus oleh Pangeran Lembu Peteng.
Pangeran Kalang lari ke Betak dan bersembunyi di tamansari Kadipaten Betak. Pada waktu itu putera dari Bedalem yang bernama Roro Kembangsore sedang berada di Tamansari. Roro Kembangsore merasa tidak keberatan bahwa Pangeran Kalang bersembunyi di ditu, karena Pangeran Kalang masih pernah pamannya (saudara kandung ayahnya).
Kemudian datanglah Pangeran Lembu Peteng ke Tamansari untuk mencari Pangeran Kalang. Di Tamansari Pangeran Lembu Peteng bertemu dengan Roro Kembangsore. Putri Bedalem ini tidak mengakui bahwa pamannya bersembunyi di situ. Pangeran Lembu Peteng tertarik akan kecantikan sang putri dan menyatakan asmaranya. Roro Kembangsore mengimbanginya.
Ketika kedua merpati tersebut sedang dalam langen asmara, maka Pangeran Kalang yang sedang bersembunyi di Tamansari dapat mengintip dan mengetahui bagaimana tindakan kemenakannya terhadap Pangeran Lembu Peteng. Dengan diam-diam Pangeran Kalang masuk ke dalam Kadipaten untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada kakaknya ialah Pangeran Bedalem. Pangeran Bedalem setelah mendengar pelaporan dari adiknya, menjadi sangat larah sekali, terus pergi ke Tamansari. Timbullah perang antara Pangeran Lembu Peteng dan Pangeran Bedalem. Pangeran Lembu Peteng dapat meloloskan diri bersama dengan Roro Kembangsore, tetapi terus dikejar oleh Pangeran Bedalem.
Kembali kepada kisah Kyai Besari yang berhasil meloloskan dir dari peperangan dengan murid Kyai Pacet. Ia menuju ke desa Ringinpitu, rumah Kyai Becak, yaitu pernah kakaknya. Pada waktu itu Kyai Becak sedang berada di pendopo bersama dengan dua orang anaknya yang bernama Banguntulak dan Dadaptulak. Dengan kedatangan Kyai Besari kedua anaknya tersebut lalu keluar untuk pergi ke ladang.
Kyai Besari mengatakan bahwa kedatangannya ke Ringinpitu bermaksud untuk meminjam pusaka ialah pusaka Ringinpitu yang berbentuk tombak bernama Korowelang dengan alasan untuk kepentingan “ngideri pari”. Kyai Becak tidak meluluskan permintaan adiknya. Kyai Besari marah, akhirnya terjadi perang. Kyai Becak kalah dan mati terbunuh. Besari terus pergi dengan membawa pusaka Korowelang.
Waktu Dadaptulak dan Banguntulak pulang dari ladang, mereka sangat terkejut melihat ayahnya berlumuran darah dan sudah tidak bernyawa. Oleh sebab tidak ada orang lain yang datang di situ kecuali Kyai Besari, maka Banguntulak dan Dadaptulak yakin bahwa pembunuh ayah mereka adalah Kyai Besari. Segera mereka mengejarnya ke arah selatan dan dapat menemukannya. Terjadilah pertempuran. Banguntulak dan Dadaptulak kalah. Banguntulak terluka dan berlumuran darah. Darahnya berbau langu. Maka tempat di mana ia mati dinamakan Boyolangu. Sedangkan tempat dimana Dadaptulak meninggal dinamakan Dadapan.
Kyai Besari melanjutkan perjalanannya. Ia berjumpa dengan Pangeran Bedalem yang sedang mengejar Pangeran Lembu Peteng. Pangeran Bedalem menceritakan tentang peristiwanya, yang mana Kyai Besari dalam hal itu bersedia membantunya. Keduanya segera pergi mencari Pangeran Lembu Peteng yang lari bersama dengan Roro Kembangsore.
Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembangsore sedang beristirahat di tepi sungai, datanglah Kyai Besari dan Pangeran Bedalem. Pangeran Lembu Peteng dapat ditangkap dan dibunuh, lalu jenazahnya di buang ke dalam sungai. Roro Kembangsore dapat meloloskan diri.
Punakawan Pangeran Lembu Peteng yang telah mengasuhnya sejak kecil memberitahukan hal tersebut kepada Kyai Pacet. Kyai Pacet segera mengirimkan utusan, yaitu Adipati Trenggalek yang diikuti oleh bekas punakawan Pangeran Lembu Peteng untuk mengadakan pelaporan ke Majapahit. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan perwira Majapahit bersama dengan Pangeran Suka yang ketika itu mendapat tugas dari Raja untuk mencari Putra yang meninggalkan kerajaan tanpa pamit, ialah Pangeran Lembu Peteng. Adipati Trenggalek menceritakan peristiwa terbunuhnya Pangeran Lembu Peteng. Setelah mengerti duduk perkaranya maka Perwira Majapahit bersama dengan Pangeran Suka tersebut ingin membuktikan tempat kejadian itu bersama-sama dengan bala tentaranya. Meskipun diadakan pengerahan tenaga untuk mencarinya, namun jasad dari Pangeran Lembu Peteng tak jua ditemukan. Sungai dimana jenazah Pngeran Lembu Peteng dibuang, oleh perwira Majapahit diberi nama Kali Lembu Peteng.

PERWIRA MADA MENCARI JEJAK PANGERAN BEDALEM DAN KYAI BESARI
Pangeran Bedalem setelah mendengar berita bahwa dia dikejar oleh bala tentara Mojopahit, sangat ketakutan dan melarikan diri ke jurusan selatan. Karena takutnya maka Pangeran Bedalem bunuh diri dengan menceburkan diri ke sebuah kedung. Kedung tersebut lalu diberi nama Kedung Bedalem. Oleh karena Kadipaten Betak lowong, maka yang diangkat menggantikan Pangeran Bedalem adalah Pangeran Kalang.
Bala tentara Mojopahit disebar untuk mencri Kyai Besari. Putra Mojopahit yang bernama Pangeran Suka dalam mengadakan operasi pencarian ini kena dirunduk oleh Kyai Besari dan tergelincir masuk ke sebuah kedung hinga meninggal dunia. Kedung ini lalu dinamakan Kedungsoko. Akhirnya Kyai Besari dapat diketemukan di desa Tunggul oleh Perwira Mada. Oleh karena Kyai Besari tidak menyerah maka timbullah peperangan. Kyai Besari kalah dan terkena pusakanya sendiri yaitu pusaka Korowelang. Dukuh tersebut oleh sang perwira dinamakan dukuh Tunggulsari. Karena kecakapannya menumpas pemberontakan-pemberontakan dan kekeruhan-kekeruhan konon sang perwira akhirnya diangkat menjadi Patih dan mendapat gelar Patih Gajah Mada.

PANGERAN KALANG JATUH CINTA KEPADA RORO INGGIT
Setelah Pangeran Kalang menjabat Adipati di Betak, maka hatinya tertawan oleh Roro Inggit, adik dari Reta Mursodo janda almarhum pangeran Bedalem. Roro Inggit ingin dijadikan istrinya, tetapi menolak dan Retno Mursodo tidak menyetujuinya. Pangeran Kalang memaksanya. Roro Inggit bersama dengan Retno Mursodo meninggalkan Betak dan melarikan diri ke Plosokandang. Pangeran Kalang berusaha mengejarnya, tetapi kehilagan jejak, sehingga ia mengeluarkan suatu maklumat, yang menyatakan bahwa barang siapa ketempatan dua orang putri Kadipaten Betak tetapi tidak mau melapor, maka ia akan dijatuhi hukuman gantung.

KYAI PLOSOKANDANDANG DIPERSALAHKAN
Salah seorang murid Kyai Pacet yang bernama Kyai Singotaruno, disebut pula Kyai Plosokandang, karena berasal dari Plosokandang. Pada suatu hari ia bertemu dengan dua orang putri dari Kadipaten Betak, yang tak lain adalah Roro Inggit dan Retno Mursodo. Kedatangan putri Betak ini sengaja mencari pengayoman dari Kyai Plosokandang. Segala sesuatu mengenai tindakan Pangeran Kalang oleh retno Mursodo diceritakan semua, dan karena Kyai Singotaruno tidak berkeberatan melindunginya, meskipun ia tahu bahwa tindakannya itu membahayakan dirinya.
Adipati Kalang datang ke Plosokandang dan bertanya apakah Kyai Singotaruno mempunyai tamu yang berasal dari Betak. Kyai Singotaruno menjawab bahwa ia tidak mempunyai tamu seorang pun, tetapi Adipati Kalang tidak percaya, dan ingin melihat ke belakang. Roro Inggit dan Retno Mursodo ketika mendengar hal itu segera berkemas dan melarikan diri ke arah barat. Adipati Kalang mengetahui hal itu, dan ia sangat marah kepada Kyai Singotaruno. Ia dianggap salah dan dijatuhi hukuman gantung.

RORO INGGIT BUNUH DIRI
Oleh karena Roro Inggit takut bila sampai di pegang oleh Adipati Kalang, maka ia berputus asa dan terjun ke dalam sebuah Beji atau Blumbang. Desa tempat Rr. Inggit bunuh diri oleh Pangeran Kalang dinamakan desa Beji. Adapun Retno Mursodo terus melarikan diri ke gunung cilik.

MBOK RONDO DADAPAN
Ketika Pangeran Lembu Peteng perang melawan Kyai Besari, Roro Kembangsore dapat memisahkan diri dan lari ke desa Dadapan. Di desa tersebut ia menumpang pada seorang janda bernama Mbok Rondo dadapan. Mbok Rondho mempunyai seorang anak laki-laki bernama Joko Bodho. Lama kelamaan Joko Bodho terpikat oleh kecantikan Roro Kembangsore dan ingin sekali memperistrinya, tetapi selalu ditolak dengan halus oleh Roro Kembangsore. Oleh karena Joko Bodho selalu mendesak maka pada suatu hari ketika Mbok Rondho sedang bepergian, Roro Kembangsore menyetujui ajakan Joko Bodho, asalkan Joko Bodho mau menjalani tapa mbisu di sebuah gunung dekat desa itu. Joko Bodho menyetujui persyaratan tersebut dan pergi meninggalkan rumah. Ikatan janji ini tidak diketahui oleh mBok Rondho Dadapan.
Roro Kembangsore juga pergi ke gunung cilik, maka ketika Mbok Rondho pulang, ia mendapati rumah telah dalam keadaan sepi, dan ternyata kosong. Ia pergi ke kesana-kemari dan memanggil-manggil kedua anak tersebut. Tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ditemukannya Joko Bodho sedang duduk termenung menghadap ke arah barat. Dipanggilnya berulang kali tidak mendapat jawaban, karena jengkelnya Mbok rondho lupa dan mengumpat “bocah diceluk kok meneng bae koyo watu (Indonesia: anak dipanggil kok diam seperti batu)” . Seketika itu juga karena sabda Mbok Rondho, Joko Bodho berubah menjadi batu. Mbok Rondho menyadari atas keterlanjuran kata-katanya, maka ia lalu berharap; “besok kalau ada ramainya zaman gunung ini saya beri nama gunung Budheg”.

RESI WINADI DI GUNUNG CILIK
Pada suatu hari Adipati Kalang mendengar bahwa di gunung cilik ada seorang pendeta wanita yang menamakan dirinya Resi Winadi. Yang menjadi pendeta tersebut sebetulnya adalah Roro Kembangsore. Selain menjadi seorang pendeta ia juga menjadi seorang empu. Resi ini mempunyai dua orang abdi kinasih yang bernama SARWO dan SARWONO.
Pada suatu hari cantriknya yang bernama Sarwo disuruh ke kadipaten Betak untuk mencoba kesaktian dan keampuhan pusaka yang dibuatnya sendiri untuk diadu dengan pusaka milik Pangeran Kalang. Cara mengadunya adalah sebagai berikut! Kalau pusakanya ditikamkan ke sebuah pohon beringin sehingga daunnya rontok dan pohonnya tumbang maka dialah pemenangnya. Selanjutnya, bilamana resi Winadi yang kalah maka Resi bersedia tunduk dan mau disuruh apa saja. Sebaliknya jika resi yang menang dan pangeran berkeinginan untuk memiliki pusaka miliknya maka pangeran harus pergi sendiri ke Gunung cilik dan bila sudah mulai naik harus berjalan jongkok, tidak boleh memandang wajah sang resi sebelum diperbolehkan.
Setelah cantrik mengerti akan tugas yang diberikan, berangkatlah ia. Kecuali menugasi Sarwo, Resi Winadi juga memberi tugas Sarwono untuk masuk ke tamansari Betak dengan menyamar untuk mencabut sumbat ijuk yang ada di tamansari. Adapun letaknya adalah di bawah batu gilang.
Setelah datang di Betak, cantrik Sarwo menhadap Adipati Kalang dan mengutarakan maksudnya. Sang Adipati menanggapi dan menyetujuinya. Masing-masing membawa senjata pusaka ke alun-alun untuk diadu kekuatannya. Pusaka Kadipaten Betak dicoba terlebih dahulu ke pohon beringin yang tumbuh di tengah alun-alun, tetapi tidak terjadi apapun. Sekarang giliran pusaka gunung cilik. Setelah ditikamkan, pohon beringinpun langsung rontok dannya dan tumbang pohonnya.
Adipati Kalang mengakui kekalahannya dan ingin sekali memiliki pusaka tersebut. Sarwo tidak keberatan asalkan Adipati Kalang bersedia menyetujuinya. Dengan diantar oleh cantrik Sarwo, dan diikuti oleh beberapa orang prajurit pengawalnya berangkatlah Pangeran Kalang ke Gunung Cilik.
Di tamansari Betak, Sarwono yang mendapat tugas mencabut sumbat lidi segera mencari dan menemukan sabut tersebut. Sumbat segera dicabutnya, dan seketika itu pula memancarlah sumber air yang besar. Kadipaten Betak-pun banjir dan terendam oleh air. Sarwono dapat menyelamatkan diri dengan menaiki sebuah getek

DI PERTAPAAN GUNUNG CILIK
waktuSarwono sedang menghadap Resi Winadi, datanglah Ibunya Roro Mursodo. Maka saling berceritalah tentang riwayatnya masing-masing. Tak lupa disebutkan pula tentang kematian Roro Inggit yang dikarenakan Pangeran Kalang. Mereka sangat gembira karena dapat bertemu kembali. Kemudian datanglah Patih Majapahit dengan bala tentaranya yang ingin menyatakan kebenaran berita yang diterimanya. Pada saat itu tampak dari kejauhan kedatangan dua orang. Yang seorang datang dengan berjalan jongkok dan menyembah. Tamu ini tak lain adalah Pangeran Kalang yang diantar oleh cantrik Sarwo. Setelah dekat Sang Resi memerintahkannya supaya memandangnya. Alangkah malu dan terkejutnya Pangeran Kalang. Karena yang disembah-sembahnya tadi adalah keponakannya sendiri. Karena malu bercampur takut Pangeran Kalang melarikan diri, yang kemudian dikejar oleh tentara Mojopahit.

PANGERAN KALANG MATI TERBUNUH
Pangeran Kalang terus dikejar, dan oleh tentara Mojopahit dapat ditangkap dan dihujani senjata tajam, sehinga pakaiannya hancur dan badannya penuh dengan luka. Tempat dimana Pangeran Kalang tertangkap ini dinamakan Cuwiri. Meskipun telah terluka parah Pangeran Kalang masih dapat melarikan diri, tetapi tertangkap lagi dan badannya disembret-sembret oleh anak buah Patih Gajah Mada. Tempat tertangkap untuk kedua kalinya ini dinamakan desa Kalangbret.
Adipati Kalang masih berusaha lari, tetapi karena sudah merasa lelah diapun bersembunyi di song sungai, dan disinilah dia menemui ajalnya. Tempat tersebut oleh patih Gajah Mada dinamakan Kali Ngesong. Setelah keadaan aman patih Gajah Mada kembali ke Majapahit.
Mayat Pangean Kalang yang berada di dalam song lama kelamaan terbawa arus sampai ke timur sampai ke suatu tempat. Mayat (batang—bhs. Jawa) tersangkut pada akar pohon yang menjulang ke sungai, sehingga sampai sekarang tempat di mana ditemukannya mayat tersebut dinamakan desa Batangsaren. Tidak lama kemudian mayat tersebut terbawa arus lagi sampai ke sungai Ngrowo. Sedangkan bekas pertapaan Roro Kembangsore hingga sekarang, menjadi tempat pesadranan.

Bendungan Wonorejo




Bendungan Wonorejo, adalah bendungan terbesar di Asia Tenggara, dengan debit 15000 m3 per detik. Bendungan ini terletak di sebelah barat kota Tulungagung, tepatnya du desa Wonorejo, kecamatan Pagerwojo, dan berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga dan tempat rekreasi.
Sebagai satu tujuan wisata, Bendungan ini dilengkapi dengan beberapa prasara seperti, taman bermain, area pemancingan, speed boat, penginapan dan sarana untuk hiburan.
Hamparan air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Candi Sangrahan, Tulungagung



Membandingkan Candi Sanggrahan dengan candi-candi besar di Jawa Timur macam Candi Penataran jelas kalah populer. Namun untuk ukuran Tulungagung candi ini sudah relatif dikenal oleh masyarakat. Karena candi ini adalah yang paling besar ukurannya dibandingkan dengan peninggalan-peninggalan lain yang bertebaran di Tulungagung. Berlokasi di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung Candi Sanggrahan mempunyai ukuran panjang 12,16 m, lebar 9,05 m dan tinggi 5,86 m. Bahan candi terbuat dari batu andesit dan batu bata. Candi Sanggrahan merupakan bangunan yang berundak-undak yang terdiri atas batuan (lapisan paling bawah) yang tersusun atas batu bata, Candi Sanggrahan rnenghadap ke barat, karena di bagian itu ada tangga naik ke bilik candi. Namun biliknya sekarang sudah tiada.
Tidak beda dengan susunan candi pada umumnya, candi Sanggrahan juga dibagi atas bagian kaki, tubuh dan atap. Tetapi atap tersebut sekarang telah runtuh sama sekali. Pada kaki candi terdapat panil-panil dalam ukuran sama mengelilingi kaki candi. Gambar relief pada panil ini berupa harimau bertelinga lebar. Antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar sempit (semacam lantai yang sengaja dibuat untuk orang berjalan rnengelilingi candi). Bagian tubuh candi masih dalam keadaan baik, hanya bagian sisi sebelah barat yang sudah  rusak. Sehingga batu isian (batu bata yang ada di bagian dalam untuk penguat candi) sebagian kelihatan. Pada bagian tubuh candi terdapat bidang panil yang kosong tanpa relief. Dimungkinkan pembuat relief belum sempat mengerjakan. Di belakang candi masih terdapat bekas bangunan lain, termasuk bangunan yang terbuat dari batu bata. Dengan saluran air yang menunjukkan fungsinya dulu sebagai pemandian. Dengan demikian dapat kita duga bahwa dulunya di Candi Sanggrahan ini terdapat kompleks (lebih dari satu) bangunan lain.
Sayangnya tidak diketemukan catatan sejarah atau pun prasasti yang menunjukkan kapan dan oleh raja siapa candi tersebut dibuat. Tetapi mengenai sifat agamanya Candi Sanggrahan dapat kita ketahui dari beberapa arca Budha di sekitar candi. Sehingga para ahli purbakala yang pernah meneliti candi itu berkesimpulan bahwa candi Sanggrahan bersifat agama Budha. Meski telah ada juru kunci yang mengurus, namun Candi Sanggrahan terlihat merana. Bangunannya terlihat semakin renta. Sebagian batunya berantakan. Sekitar candi ditumbuhi rerumputan sehingga mengurangi keindahan. Arca-arca Budha di belakang candi pun kondisinya memprihatinkan. Semuanya tak berkepala. Menurut juru kuncinya pada saat diketemukan kondisi candi memang telah dalam keadaan rusak termasuk arca-arcanya
Namun sumber lain, yakni masyarakat sekitar mengatakan bahwa itu ulah tangan jahil. Pernah suatu ketika salah satu arcanya dicuri orang. Tetapi tak lama kemudian segera dikembalikan karena sipencuri sakit keras mendadak. Di hari libur Candi Sanggrahan sering dikunjungi murid-murid SD dan TK untuk sekedar melihat-lihat. Pada hari raya Waisak di candi itu kadang-kadang juga sebagai tempat upacara ritual. Candi Sanggrahan meski tidak begitu terkenal tetapi merupakan salah satu bukti tingginya peradaban budaya nenek moyang masa lalu. Oleh karena itu diperlukan kesadaran untuk ikut menjaga warisan nenek moyang tersebut

Candi Penampihan ; Candi Tua nan Eksotis

Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang terpadat peninggalan budayanya. Berbagai ragam benda bersejarah dan purbakala masih banyak tersisa di wilayah ini sebagai akibat dari perjalanan panjang  kawasan ini dalam panggung sejarah kebudayaan. Kabupaten Tulungagung banyak memiliki situs dan peninggalan Benda Cagar Budaya seperti bangunan candi, gua, dan lain sebagainya, Di mana benda-benda tersebut merupakan bukti otentik yang menghubungkan masa modern dengan masa lalu. Diantara sekian banyak situs candi di Tulungagung candi Penampihan  merupakan situs yang lokasinya agak sulit untuk dijangkau selain karena  berada di lereng  gunung juga karena jalannya yang berupa batu, dan beberapa ruas jalan yang kondisinya menanjak dan telah cukup rusak.
Nah, di bawah ini merupakan pembahasan keadaan tentang Candi Penampihan
candi-penampihan-1
1. Teras Pertama
       Pada teras pertama, yakni bagian yang paling bawah, terdapat bangunan semacam altar yang disusun dari batuan andesit berdenah lonjong. Ukuran altar tersebut adalah panjang 5 m, lebar 2,5 m, dan tinggi 1,5 m. di bagian atas altar berbentuk lonjong itu terdapat sebuah prasasti berbahan batuan andesit berbentuk persegi. Prasasti itu dikeluarkan tahun 820 C. selain itu terdapat dua buah arca tokoh laki-laki yang digambarkan seperti wayang, sebuah arca Ganesa, dua buah arca tokoh wanita, dan sebuah bola batu.           
2. Teras Kedua
      Pada teras kedua yang dibatasi oleh semacam pagar batuan andesit, tidak dijumpai bangunan (kosong). Teras kedua ini merupakan altar atau tempat sesaji.
3. Teras Ketiga
       Teras ketiga merupakan teras yag paling tinggi. Di teras ini terdapat tiga buah bangunan. Bangunan pertama yang berada di tengah teras, tepat di depan tangga masuk, merupakan bangunan berbentuk persegi panjang berbahan andesit dan bata sebagi isinya. Ukurannya adalah : panjang 9.70 m, lebar 4.90 m, tinngi 1,10 m. bangunan tersebut mengambil bentuk kura. Kura raksasa itu pernah ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 1382 C dan sebuah arca tokoh wanita dengan angka tahun 1116 C.
        Di sisi kiri teras utama ini terdapat sebuah bangunan berbentuk bujur sangkar. Bangunan perwara berbahan bata ini sudah tidak lengkap lagi, walaupun demikian dapat diketahui bahwa di bagian kakinya terdapat panil-panil berisi relief yang menggambarkan cerita berlakon binatang (fabel), serta relief yang menggambarkan dua ekor gajah sedang membajak di sawah. Saat ini percandian tidak lagi digunakan sebagi tempat pemujaan, hanya digunakan sebagai lokasi wisata, yang sebagian besar pengunjungnya adalah pelajar.
Selanjutnya, penulis akan membahas tentang peninggalan di sekitar Candi Penampihan, yaitu :
1.    Ganesha
Ganesha merupakan dewa manusia berkepala gajah, putra dewa siwa denganparwati. Dalam ikonografinya ganesha sering kali digambarkan duduk  uttkutikasana (dua telapak kaki bertemu di tengah), mempunyai dua tangan. Sikap duduk ini merupakan sikap duduk khas ganesha. Ganesha dianggap sebagai symbol ilmu pengetahuan, dewa perang sekaligus pembasmi kejahatan dan kebodohan. Saat ini di musium terdapat 6 ganesha.
2.    Jaladwara
Jaladwara merupakan saluran air dalam suatu kompleks percandian. Biasanya dihiasi dengan berbagai motif yang mempunyai makna simbolis tertentu. Jaladwara lebanyakan dihiasi dengan motif “makara” yaitu binatang mitos yang merupakan stiliran dari gajah dan naga. Dianggap mempunyai kekuatan magis untuk mengusir roh jahat yang akan masuk ke kompleks bangunan suci. Ada pula yang digambarkan sebagai seorang tokoh perempuan, pada umumnya menggambarkan adegan ketika mencari air, membawa wadah air. Saat ini di musium terdapat 12 jaladwara.
3.    Umpak
4. Patung Bima
Patung Bima digambarkan dalam sikap berdiri samabanggha diatas lapik padma ganda. Pemujaaan tokoh pewayangn Bima sangat popular pada akhir abad XIII dan awal XIV. Dianggap sebagai lambang keberanian keluhuran budi dan keperkasaan

Search